Program Makan Gratis Bisa Ciptakan 1,8 Juta Lapangan Kerja

by -95 Views

Program Makan Gratis Nasional di Sekolah sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru diusulkan. Namun, program ini perlu diperluas untuk mempertimbangkan segala potensi dan manfaat turunannya, termasuk penciptaan lapangan kerja baru.

Menurut kajian yang dilakukan oleh Indonesia Food Security Review (IFSR), Program Makan Gratis Nasional di Sekolah sebenarnya sudah dilaksanakan di Indonesia sejak tahun 1997. Pada saat itu, program yang dimaksud disebut Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah, dan diteruskan pada tahun 2010 dengan program Revitalisasi PMTAS.

Pada tahun 2012, Pemerintah Indonesia mendapat dukungan dari WFP Indonesia dan beberapa program Local Food-Based School Meals, yakni program pemberian makanan siswa berbasis pangan lokal. Dan pada tahun 2016, juga ada program Perbaikan Gizi untuk Anak Sekolah (Progas).

Co-Founder Indonesia Food Security Review, I Dewa Made Agung Kertha Nugraha menyampaikan bahwa program-program tersebut telah terbukti memberikan dampak positif dalam memperkuat sistem perlindungan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan. Namun, satu hal yang masih menjadi kendala hingga saat ini adalah belum adanya undang-undang yang mengatur kelangsungan program-program ini lintas pemerintah.

Menurut Badan Pangan PBB (UN WFP), jika Program Makan Siang di Sekolah dilaksanakan dengan baik, maka hal tersebut dapat meningkatkan kesehatan dan kecerdasan anak, kesejahteraan komunitas dalam meningkatkan kesetaraan gender, serta mendukung ekonomi nasional dan stabilitas sosial.

Di masa mendatang, menurut IFSR, program ini perlu diaktifkan kembali dan diperluas cakupannya. Untuk menjalankan dengan sukses, perlu dilakukan peningkatan di berbagai aspek, termasuk prioritas penerima manfaat, kerangka kebijakan yang jelas dan komprehensif, pendanaan jangka panjang, perkuatan kapasitas dan koordinasi pemangku kepentingan, keterlibatan masyarakat dalam desain dan implementasi program, serta peningkatan partisipasi masyarakat.

Potensi Ekonomi dan Lapangan Kerja

Indonesia berada di peringkat 63 dari 113 negara dalam Global Food Security Index (GFSI) 2022. Skor terendah Indonesia adalah pada kategori keberlanjutan dan adaptasi, menunjukkan bahwa Indonesia masih memiliki tantangan dalam hal ketahanan pangan.

Dewa menyebutkan data yang dikemukakan oleh Menko PMK Muhadjir Effendy bahwa 41% anak usia sekolah berangkat sekolah lapar/kelaparan, 32% menderita anemia, dan 58% pola makan tidak sehat. Oleh karena itu, penting untuk terus mengembangkan dan memperluas Program Makan Gratis Nasional di Sekolah, karena program tersebut juga diyakini memiliki dampak terhadap perekonomian.

Studi World Food Program terkait Program Makan Gratis Nasional di Sekolah menyebutkan bahwa setiap US$ 1 yang dikeluarkan untuk program tersebut akan menghasilkan dampak ekonomi sebesar US$ 9, yang terdiri dari penghematan keluarga miskin, peningkatan kecerdasan, peningkatan produktivitas dan penghasilan kerja, serta peningkatan kesehatan serta perbaikan kesetaraan gender.

Dengan asumsi indeks US$ 1 per makan, kebutuhan anggaran per tahun mencapai US$ 26,4 miliar atau sekitar Rp 400 triliun. Asumsi multiplier ekonomi 1,5 kali dan anggaran baru, maka dampak pertumbuhan ekonomi tambahan 2,6%. Dengan asumsi 1 dapur untuk setiap titik makan siang, dan setiap dapur melayani 190, maka penerima manfaat sebanyak 377.000 dapur. Sementara itu dengan asumsi 5 tenaga kerja langsung per dapur, maka akan ada 1,8 juta tenaga kerja tercipta, belum termasuk petani, nelayan, peternak dan UMKM.

Mengenai sumber pendanaan, Dewa mengatakan bahwa dana sekitar Rp 400 triliun tidaklah terlalu besar, yakni hanya sekitar 2% dari PDB. Dengan kata lain, negara hanya perlu mencari tambahan pendapatan negara kurang dari 2% dari PDB untuk mengoptimalkan program ini.

Kesimpulannya, Program Makan Gratis Nasional di Sekolah memiliki potensi untuk menciptakan lapangan kerja baru dan berdampak positif terhadap perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, perlu terus dikembangkan dan diperluas cakupannya untuk mendukung ketahanan pangan dan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Penulis: Imam Suhattadi / Euis Rita Hartati
Sumber: investor.id

Source link