Menjadi Model Industri, Inilah Jalan Menuju NZE Schneider Electric

by -70 Views

Jakarta, CNBC Indonesia – Target Indonesia menuju Net Zero Emission pada 2060 membutuhkan komitmen dan kerja cepat dari seluruh pemangku kepentingan, tak terkecuali sektor industri. Kemenperin bahkan mencanangkan pencapaian target NZE sektor industri harus dapat terwujud pada 2050, yang artinya 10 tahun lebih cepat dari target nasional. Target ini tentunya membutuhkan stimulasi yang lebih agresif lagi untuk memungkinkan para pelaku industri mempercepat aksi dekarbonisasinya.

Namun begitu tantangan sektor industri masih cukup besar. Hasil Sustainability Survey Schneider Electric yang rilis pada 2023 lalu terhadap pemimpin perusahaan di sembilan negara Asia termasuk Indonesia menemukan bahwa 98 persen pemimpin perusahaan di Indonesia yang disurvei menyadari pentingnya memasukkan praktik sustainability dalam strategi bisnisnya. Hanya saja kesadaran yang tinggi ini belum berimbang dengan aksi nyata perusahaan, baru 49 persen yang menyatakan sudah memiliki aksi nyata. Kendala utama dalam memulai aksi tersebut dikarenakan aset dan infrastruktur yang sudah lama, kendala biaya, kurangnya data dan budaya. Kebijakan dan insentif pemerintah juga menjadi pertimbangan perusahaan.

Belum lama ini, CNBC Indonesia berbincang-bincang dengan Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Roberto Rossi, dan Industry Business Vice President Schneider Electric Indonesia Martin Setiawan.

Sebagai perusahaan yang telah banyak memperoleh pengakuan dalam hal inisiatif sustainability antara lain Corporate Knights, CDP dan Dow Jones Sustainability World Index, Schneider Electric berbagi pengalaman terkait bagaimana memulai aksi dekarbonisasi, dan dampaknya terhadap bisnis. Cluster President Schneider Electric Indonesia & Timor Leste Roberto Rossi mengatakan, NZE saat ini sudah sangat mendesak dan menjadi cara terbaik untuk masa depan. Sehingga pihaknya pun memiliki target, NZE pada 2050 terhadap seluruh kegiatan operasinya. “Jelas bagi kami dalam 20 tahun terakhir kita tidak bisa hanya mengonsumsi sumber daya alam yang ada. Kita juga tidak bisa hanya memikirkan, namun kita harus maju dengan memiliki road map yang jelas untuk segera dicapai,” ungkap Roberto saat ditemui CNBC Indonesia. Roberto menyebut, perjalanan menuju NZE bagi Schneider Electric sudah jelas. Hal ini telah tergambarkan dalam road map perusahaan. Di mana dalam Schneider Sustainability Impact 2021-2025, kami secara global memiliki komitmen untuk menekan emisi karbon hingga 800 juta ton CO2. Sementara untuk komitmen kedua pada tahun 2030 adalah pemetaan dan komunikasi ke semua rantai suplai dan mengurangi jejak karbon sebesar 25%. Sedangkan di 2040-2050 diharapkan telah mencapai netral hingga titik nol karbon. “Dekarbonisasi rantai suplai n baik upstream dan downstream yang menjadi Scope 3 emisi karbon sangat penting. Mengingat sekitar 70 persen emisi karbon suatu perusahaan terjadi di rantai suplai. Oleh karena itu, perusahaan harus melibatkan seluruh stakeholder dalam rantai suplainya untuk mengurangi emisi karbonnya,” tegas Roberto. Sementara itu, Business Vice President Industrial Automation Schneider Electric Indonesia & Timor Leste, Martin Setiawan menambahkan, untuk mencapai target 2050, Schneider Electric memiliki tiga pilar dekarbonisasi, yaitu, Strategize, Digitize dan Decarbonize. “Dalam membuat strategi yang tepat, kita perlu mengevaluasi terlebih dahulu (pre-assessment) sistem atau prosedur yang kita jalankan saat ini untuk mengidentifikasi permasalahan utama. Selanjutnya kita perlu mendigitalisasi sistem kelistrikan dan proses operasional dengan memasang software, power monitoring, supaya yang tadinya tidak kelihatan jadi kelihatan. Kalau kita bisa memvisualisasikan seluruh kegiatan operasional dengan lebih jelas dan data yang akurat, maka kita memiliki kemampuan untuk memonitor dan mengontrol. Setelah itu, baru bisa masuk ke tahapan dekarbonisasi dimana kita bisa mengeksplor berbagai alternatif solusi dekarbonisasi. Contohnya mengganti ke sumber energi hijau, pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan efisiensi energi, dan masih banyak lagi,” ungkap Martin. Ketiga tahapan ini menurut Martin telah berhasil diterapkan di ketiga pabriknya di Batam dan Cikarang, dan menggunakan solusi teknologi milik Schneider Electric sendiri. Pabrik Schneider Electric ini pun bahkan telah memperoleh pengakuan dan menjadi Lighthouse revolusi industri 4.0 bagi nasional maupun global. “Banyak pabrik industri di Indonesia baik dari FnB, manufaktur, hingga petrokimia datang ke pabrik kita untuk benchmarking. Apalagi secara nyata dengan teknologi kami, bisa meningkatkan efisiensi hingga 20% dan mengurangi waste material hingga 40%,” tegas Martin. Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan teknologi, Martin menekankan pentingnya memilih mitra strategis yang menghadirkan otomatisasi berbasis perangkat lunak yang terbuka dan kolaboratif. “Ini lah yang menjadi visi kami dalam menjadikan industri masa depan yang berkelanjutan dan tangguh melalui otomatisasi terbuka yang berpusat pada perangkat lunak. Kami pelopor dalam meluncurkan solusi otomatisasi berpusat pada perangkat lunak pertama untuk industri, EcoStruxure Automation Expert, yang memberikan ruang inovasi bagi engineer perusahaan dalam mengoptimalisasi operasionalnya sesuai dengan kebutuhan.” Sementara itu, Roberto menekankan komitmennya menjadi mitra digital dalam efisiensi energi dan sustainability. Tidak hanya sebagai penyedia teknologi, menurutnya, Schneider Electric menyediakan solusi komprehensif mulai dari melakukan pre-assessment, konsultasi, pendampingan dan pengembangan kompetensi SDM, hingga pembuatan road map dan implementasi solusi dan teknologi. “Kami ingin menjadi mitra digital bagi efisiensi energi dan otomasi industri. Kami telah membuktikannya sendiri di internal, dan kami akan membagikannya kepada pelaku industri.” tutup Roberto. Adapun kredibilitas perusahaan dalam menyediakan solusi yang komprehensif ini kembali mendapatkan pengakuan, dengan disematkannya predikat Energy Management Software 2023 terbaik dalam laporan Green Quadrant dari Verdantix. Predikat ini diberikan karena Schneider Electric dinilai mampu menghadirkan solusi komprehensif berupa perangkat lunak, yang mampu mengintegrasikan sistem manajemen energi melalui Platform EcoStruxure.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Selanjutnya

Demi Keberlanjutan, Industri Bisa Tempuh 5 Strategi Ini

(rah/rah)