Fondasi Pembangunan #2: Demokrasi Oleh dan Untuk Rakyat Indonesia (Partai, Survei, Pemilih, dan Media Kadang Bisa Dibeli dan Dikuasai)

by -81 Views

Oleh: Prabowo Subianto [diambil dari Buku Paradoks Indonesia dan Solusinya]

Partai, Survei, Pemilih, dan Media Kadang Bisa Dibeli dan Dikuasai

Demokrasi kita dalam bahaya. Pertama, karena banyak pemimpin kita yang bisa dibeli. Kedua, karena banyak kelompok oligarki yang memiliki cukup banyak uang untuk membeli para pemimpin kita.

Ya, komprador-komprador dan kelompok oligarki yang ingin mengeruk keuntungan di Indonesia inilah yang mau, yang berkepentingan meng-hijack atau membajak proses demokrasi ini.

Jika anda sudah lama menjadi warga Indonesia, tentu anda mengetahui tentang uang ngarit, uang cendol, dan serangan fajar. Dengan kekuasaan dan uang mereka, mereka ingin mengatur segalanya.

Kemudian yang lebih berbahaya, yang ingin saya ungkapkan adalah, manipulasi proses kotak suara yang merupakan inti dari demokrasi kita. Ini yang bisa, dan pernah diselewengkan.

Kadang Survei Bisa Dipesan

Negara Indonesia sangat kaya. Kita bukan negara miskin. Kita memiliki semua sumber daya alam yang dibutuhkan untuk menjadi negara yang sejahtera.

Tetapi, masalahnya, sistem kita dirusak oleh sebuah elit, sebuah oligarki yang serakah. Oligarki yang serakah ini ingin menguasai semua sumber ekonomi Indonesia, dan rela membiarkan sebagian besar rakyat Indonesia hidup dalam kondisi tidak layak. Mereka menguasai politik kita, pemerintahan kita, dengan berbagai cara.

Sekarang yang sering terjadi adalah manipulasi dan rekayasa. Hasil dari banyak polling, banyak survei yang dapat memengaruhi pandangan masyarakat bisa dibeli dan dimanipulasi. Anda pun bisa memesan survei, “buat saya nomor satu.” Kita tahu semua ini.

Yang tidak menyenangkan adalah, ketika ada lembaga survei bekerja untuk tiga orang. Kepada orang A, mereka memberi uang, dan memberikan penilaian yang bagus. Orang B, juga diberi penilaian yang bagus. Orang C, juga diberi penilaian yang bagus. Hanya satu kali kerja, namun mendapat tiga pendapatan. Sekarang banyak kreativitas. Kita bangsa yang kreatif.

Alhamdulillah, sekarang dengan media sosial, keberpihakan pada “konglomerat survei” terhadap calon tertentu dapat terlihat. Pada Pemilu 2014 dan kembali pada Pemilu 2019, ada pelaku survei yang secara terang-terangan di media sosial berkampanye untuk calon pasangan yang berhadapan dengan saya.

Namun kesadaran masyarakat mengenai praktik-praktik seperti ini masih rendah. Masih ada 24% masyarakat kita yang tidak memiliki akses ke Internet. Merupakan tugas kita bersama untuk menyadarkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada survei.

Di negara maju pun, survei bisa menjadi alat kekuasaan. Contohnya, hampir semua lembaga survei di Amerika salah memprediksi siapa pemenang pemilu Presiden Amerika tahun 2016. Hampir semua lembaga survei di Inggris Raya salah memprediksi Brexit tahun 2016. Menurut saya ini bukan kebetulan.

Kadang Daftar Pemilih Bisa Dipesan

Eksistensi utama dari demokrasi kita adalah pemilihan, adalah kotak suara. Mereka yang dapat memberikan suara ke kotak suara adalah warga negara Indonesia yang memiliki KTP. Setiap warga negara Indonesia memiliki satu suara dalam setiap pemilihan. Satu suara untuk Pemilu Legislatif tingkat Nasional dan Daerah. Satu suara untuk Pemilu Presiden. Satu suara untuk Pemilu Kepala Daerah.

Namun, dalam banyak pemilihan, pengalaman Partai GERINDRA yang ikut Pemilu sejak 2009, kita sering menemukan daftar pemilih yang tidak akurat. Kita menemukan banyak ‘hantu’ dalam daftar pemilih tersebut. Ada nama-nama yang muncul berkali-kali, di TPS yang berbeda. Mereka mungkin memilih beberapa kali, terlebih tinta yang digunakan untuk mencegah hal ini terkadang dapat dihapus.

Ada juga nama-nama orang yang sudah meninggal tetap terdaftar dalam DPT. Hal ini kita ketahui semua. Pada Pemilu Gubernur DKI 2012, jumlahnya belasan ribu. Pada Pemilu 2014, jumlahnya bahkan lebih besar. Bahkan ada lembaga riset yang menyatakan, potensi mencapai 20% dari jumlah pemilih. Pada Pemilu 2019 dan Pilkada 2020, masalah ini masih ada.

Kadang Ada Kotak Suara Ajaib
Saya tahu, Prabowo Subianto tidak disukai oleh banyak elit Indonesia, karena dia menyingkap masalah ini. Namun, saya ingat, saya tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil saya. Oleh karena itu, saya merasa perlu untuk memberitahukan kepada rakyat apa yang menjadi kegelisahan saya.

Saya rasa tidak perlu saya jelaskan secara detail di sini. Anda bisa cek sendiri, bagaimana dalam Pemilihan Umum terdahulu, ada pihak yang dapat membuka kotak suara tanpa mengikuti proses yang seharusnya dilakukan. Jika hal ini masih terjadi, sangat berbahaya untuk kelangsungan demokrasi kita.

Kadang Media Juga Bisa Dipesan

Kita melihat sekarang, banyak tiang-tiang kehidupan bangsa kita, lembaga-lembaga negara kita, institusi-institusi yang penting untuk demokrasi kita, satu per satu tergoyahkan. Ada hal-hal yang jelas tidak benar dan tidak adil di hadapan mata, namun sebagian elit kita pura-pura tidak mengetahuinya. Media kita sekarang banyak dikuasai oleh pemodal besar, sehingga banyak masalah bangsa yang disebabkan oleh ulah pemodal besar tersebut tidak diliput, atau diliput dengan narasi yang berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya.

Hal ini berbahaya karena banyak masyarakat kita bergantung pada media untuk mendapatkan pencerahan, untuk mendapatkan pengetahuan mengenai demokrasi kita. Masyarakat kita mengharapkan media yang netral, tidak berpihak selain pada kepentingan bangsa, bukan menjadi propagandis bagi kepentingan tertentu.

Saya memberikan apresiasi kepada media-media yang secara terang menyatakan dukungannya kepada partai politik tertentu, atau kandidat tertentu dalam sebuah pemilihan, atau isu politik tertentu. Apalagi jika sikap dukungannya tersebut diulang-ulang, sehingga masyarakat dapat mengetahui bahwa berita yang diterbitkan tersebut tidak netral. Jangan pura-pura netral dan tidak bisa dibeli, namun sebenarnya memberikan informasi yang menyesatkan.

Kita harus ingat, pengetahuan adalah kekuatan. Oleh karena itu, media seringkali digunakan sebagai senjata.

Sekarang kita sudah bisa membaca sebagian arsip rahasia negara-negara adidaya dari tahun 60an. Kita bisa melihat sendiri, bagaimana mereka, dengan media yang mereka kuasai, pernah mempengaruhi pandangan masyarakat kita terhadap politik dalam negeri.

Tidaklah mustahil, apa yang pernah dilakukan di masa lalu, masih berlanjut hingga saat ini. Amerika Serikat pun mengalami ‘gangguan’ serupa dalam pemilihan mereka tahun 2016 dan 2020.

Sumber: https://prabowosubianto.com/fondasi-pembangunan-2-demokrasi-oleh-dan-untuk-rakyat-indonesia-partai-survei-pemilih-dan-media-kadang-bisa-dibeli-dan-dikuasai/

Source link