Bos Nato AS Marah kepada Houthi di Yaman, Serangan Udara Menewaskan 11 Orang

by -87 Views

Ketegangan di Timur Tengah terus meningkat. Kali ini, wilayah Yaman dan Laut Merah menjadi sasaran dari negara pimpinan aliansi NATO, Amerika Serikat (AS), yang terus menyerbu wilayah itu untuk menumpas milisi Houthi.

Washington mengatakan pihaknya melakukan enam serangan Senin lalu. Ini dilakukan beberapa jam setelah Houthi mengancam akan meningkatkan serangan ke kapal dagang di Laut Merah selama Ramadan.

Militer AS, Komando Pusat AS (Centcom,) mengatakan pihaknya menghancurkan sebuah kapal bawah air tak berawak dan 18 rudal anti-kapal milik Houthi. Meski begitu Selasa serangan Houthi terus berlanjut dan drone ditembak jatuh oleh kapal perang Italia di Laut Merah.

Inggris yang juga aktif di Timur Tengah untuk menekan Houthi menegaskan tak terlibat. Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) menegaskan bahwa pesawat-pesawat RAF telah menyerang sasaran-sasaran Houthi pada kesempatan sebelumnya namun tidak di momen kemarin.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, lawan Houthi, mengatakan bahwa serangan udara AS menghantam kota-kota pelabuhan dan kota-kota kecil di Yaman Barat. Serbuan itu menewaskan sedikitnya 11 orang dan melukai 14 orang.

Houthi sendiri belum merilis adanya korban dari serangan itu. Juru Bicara militer Houthi, Yahya Sare’e, menekankan kelompok tersebut akan terus berperang meskipun ada serangan berulang kali yang dipimpin AS sejak Januari.

Senin, Houthi mengatakan sebuah kapal dagang bernama Pinocchio, menjadi sasaran rudal di Laut Merah. Kelompok itu menggambarkannya sebagai milik Amerika.

Houthi melancarkan serangan terhadap kapal-kapal yang terafiliasi atau terkait dengan Israel dan sekutunya di wilayah Laut Merah dan Teluk Aden. Ini sebagai bentuk solidaritas terhadap milisi Palestina, Hamas, dan warga Gaza.

Serangan yang terjadi hampir setiap hari ini telah memaksa perusahaan-perusahaan melakukan pengalihan yang panjang dan memakan biaya di sekitar Afrika bagian Selatan. Hal itu memicu kekhawatiran bahwa perang Israel-Hamas dapat mengganggu stabilitas Timur Tengah secara lebih luas.

Lebih dari seperempat kargo peti kemas global melintasi Laut Merah. Barang tersebut termasuk pakaian jadi, peralatan rumah tangga, suku cadang mobil, bahan kimia, dan produk pertanian seperti kopi.