Bos Yongki Komaladi Kaget setelah Mendengar Kabar Pabrik Bata Tutup

by -47 Views

Jakarta, CNBC Indonesia – Pendiri & CEO PT Sumber Kreasi Fumiko Yongki Komaladi mengungkapkan sejumlah tantangan dalam industri alas kaki. Mulai dari masalah bahan baku yang masih banyak diimpor hingga masalah tenaga kerja dan kebijakan pemerintah. Hal ini merespons kabar penutupan pabrik PT Sepatu Bata Tbk (BATA) di Purwakarta.

“Menurut saya, bahan baku merupakan salah satu hal yang sulit didapatkan jika diproduksi secara lokal. Hampir 90% produk berasal dari luar, terutama dari China. Namun, terkait dengan Bata, menurut informasi saya, Bata juga mengimpor barang-barang dari berbagai negara yang mereka miliki asosiasi sendiri, seperti Malaysia, India, Singapura, di mana mereka saling berbagi cerita dan dapat membeli barang-barang dari luar,” kata Yongki dalam program Profit CNBC Indonesia, dikutip Kamis (16/5/2024).

Menurutnya, aspek tenaga kerja juga harus dipertimbangkan, apakah tenaga kerja di Indonesia memiliki potensi yang cukup dibandingkan dengan negara lain.

“Dan juga terkait dengan kebijakan yang harus dipertimbangkan, karena saat ini sebagian besar produk sekitar 70% berasal dari luar, potensi tenaga kerjanya sebesar apa, apakah seprofesional dengan negara lain. Hal-hal ini menjadi sesuatu yang harus dipertimbangkan kembali dalam hal efisiensi dan lainnya,” ujarnya.

Yongki juga menyatakan bahwa masalah dalam industri alas kaki tidak hanya dialami oleh Bata, tetapi juga UMKM alas kaki yang menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah terkait dengan bahan baku hingga persaingan pasar yang didominasi oleh produk impor, sehingga memerlukan dukungan regulasi dari pemerintah.

“UMKM di Indonesia pasti menghadapi kendala yang lebih besar, lebih sulit. Karena Bata sebagai perusahaan besar saja mengalami hal ini, apalagi UMKM yang lebih kecil. Ini yang harus dipertimbangkan. Akibatnya seperti ini, penyebabnya apa? Nah, ini yang harus dipikirkan. Saya merasa sangat disayangkan jika UMKM yang sangat bergantung pada penjualan lokal akan menghadapi kesulitan yang lebih besar dibandingkan dengan Bata. Ini juga menjadi tugas bersama kita bahwa apakah industri ini memiliki kepadatan tenaga kerja yang luar biasa, hal ini harus dipertimbangkan. Perusahaan besar pasti memiliki strategi tertentu,” jelasnya.

Ia menekankan pentingnya untuk bersama-sama memikirkan bagaimana cara mengatasi fenomena penutupan pabrik yang semakin marak, jangan hanya melihat dari sebab atau akibatnya saja, tetapi juga memikirkan bagaimana cara mengantisipasi agar kejadian tersebut tidak terulang di UMKM.

Selanjutnya, Yongki memprediksi bahwa kondisi ini kemungkinan akan berlanjut ke merek lainnya, bukan hanya Bata. Karena saat ini banyak UMKM sudah banyak yang tidak mampu menjalankan bisnisnya. Mereka merasa tidak didukung dan difasilitasi oleh pemerintah.

“Sebagai contoh, banyak UMKM yang ingin membranding produknya tapi kalah dengan merek-merek dari luar negeri. Mengapa tidak difasilitasi untuk masuk ke pusat perbelanjaan. Bukan hanya melalui pameran selama seminggu, tetapi diberi tempat di pusat perbelanjaan, sehingga dapat bekerjasama dengan pusat perbelanjaan. Sehingga produk lokal dapat dicintai,” katanya.

“Saya melihat pusat perbelanjaan hanya memberikan tempat untuk merek-merek terkenal, sedangkan UMKM yang padat karya harus didukung. Jadi harus dipikirkan kesinambungan selama mereka menjadi produksi lokal yang harusnya dicintai dan dikenal di negara lain,” tambahnya.

Ia menyarankan hal tersebut karena melihat banyak merek-merek lokal yang belum terkenal, akhirnya tidak dapat melanjutkan produksinya karena tidak mendapatkan dukungan yang cukup.

“Tolong bantu UMKM yang tidak memiliki kemampuan untuk beradaptasi, bagaimana caranya? Itulah yang harus dipertimbangkan. Karena banyak tenaga kerja yang baik, dan kita sebagai orang-orang kreatif juga harus menciptakan produk lokal yang memiliki potensi yang baik, sehingga berbeda dengan produk dari China atau negara lainnya. Itulah yang harus kita ubah dari cara berpikir tentang UMKM,” ujar Yongki.

Meskipun demikian, Yongki tetap mengingatkan pelaku UMKM untuk mengubah pola pikirnya. Jika sebelumnya mereka hanya menunggu kesempatan, sekarang harus berpikir bagaimana caranya menjemput kesempatan tersebut.

“Jangan hanya menunggu, harus mengambil inisiatif. Mengubah pola pikir mereka sehari-hari. Mereka harus memiliki wadah yang dapat membentuk diri mereka untuk beradaptasi dengan kondisi zaman yang keras dan tidak ramah untuk semua orang,” pungkasnya.

[Gambas:Video CNBC]