Bung Karno, Kecap Nomor Satu di Seluruh Dunia.

by -85 Views

Malaysia tidak memiliki sejarah kecap manis dan hanya meniru Indonesia dalam pembuatan Kecap Nomor Satu di Dunia. Kurang dari tiga tahun yang lalu, di Frankfurt Book Fair, Jerman, pameran buku terbesar di dunia, almarhum Bondan ‘Maknyus’ Winarno mempresentasikan buku hasil karyanya, Kecap Manis: Indonesia’s National Condiment. Melalui buku yang dikemas eksklusif, setebal 300 halaman, dan diterbitkan oleh Afterhours Book ini, Bondan ‘memproklamasikan’ bahwa kecap manis merupakan pusaka kuliner asli Indonesia. Buku Bondan dijual dengan harga Rp 990 ribu. Namun, buku yang mengupas tuntas soal kecap, terutama kecap manis memang barang langka. “Ini buku juara,” kata Lutfi Ubaidillah, 39 tahun, seorang pengusaha swasta asal Bandung. Lutfi bukan sembarangan dalam hal mencicipi kecap. Dia sendiri ‘penggemar mati’ kecap, terutama kecap manis. “Kemana-mana saya selalu bawa kecap sachet. Di kantor juga selalu saya siapkan kecap botol plastik.” Lutfi tidak keberatan dibilang ‘tak bisa hidup tanpa kecap’. Sejak kecil di Bandung, kecap manis sudah menjadi menu wajib di atas meja makan di rumahnya. Dia termasuk penggemar yang sangat serius terhadap kecap. Tidak hanya harus makan dengan kecap, dia juga merupakan kolektor botol kecap dari berbagai daerah di Indonesia dan membuat blog khusus Kecap Nomor Satu di Dunia, kecap-kecap asli Indonesia, Wikecapedia. Saat ia masih hidup, seorang mantan wartawan yang gemar kuliner itu juga sempat mengoleksi kecap-kecap nusantara. Koleksinya telah mencapai lebih dari seratus merek, antara lain Kecap Blitar, kecap Zebra dari Bogor, Sawi dari Kediri, Bentoel dari Banyuwangi, Kambing Dua dari Singkawang, kecap Buah Kelapa dari Sumenep, dan Roda Mas dari Banjarmasin. Mungkin tidak banyak penggemar kecap sekaligus kolektor botol kecap seperti Bondan, Lutfi, Chef Alifatqul Maulana, dan Andrew Mulianto. Namun, seharusnya ada banyak penggemar kecap di seluruh Indonesia. Tidak heran jika ada ratusan perusahaan kecap yang tersebar dari berbagai kota di Indonesia, menunjukkan popularitas kecap di tanah air. Beberapa merek kecap bahkan telah bertahan hingga beberapa generasi. Dari perusahaan besar seperti Bango, Indofood, dan ABC, hingga perusahaan kecil yang hanya dikenal di daerah masing-masing seperti kecap cap Pulau Djawa di Pekalongan, kecap Kentjana di Kebumen, atau kecap Tin Tin asal Garut, Jawa Barat. Di antara para pelaku industri kecap turun-temurun tersebut adalah kecap Maja Menjangan di Majalengka, Jawa Barat, dan kecap Cap Tomat Lombok dari Tegal, Jawa Tengah. Didirikan oleh Saad Wangsawidjaja pada tahun 1940, usaha kecap Maja Menjangan sekarang telah diwariskan ke generasi kedua. Saat memulai usaha, Saad menjajakan kecap buatannya dari pasar ke pasar di Majalengka dan daerah sekitarnya, berbekal sepeda ontel. Puluhan bahkan ratusan kilometer ditempuhnya agar kecapnya laku terjual. Meski sempat menikmati masa-masa kejayaan hingga tahun 1990-an, kecap Maja Menjangan, begitu juga kecap-kecap lokal lainnya, makin terdesak oleh merek-merek besar. Namun begitu, pengusaha-pengusaha kecap tersebut tidak mudah menyerah. Meski masih terus menghadapi kerugian, Suhardi yang sekarang mengelola Maja Menjangan tidak ingin menyerah. Meskipun perusahaan besar datang beberapa kali menawarkan kerjasama dan suntikan modal besar kepada pemilik Maja Menjangan dan kecap Tomat Lombok, mereka menolak melepas warisan tersebut. “Mereka menawarkan produksi 120 ribu botol per hari. Apakah kami siap? Jika tidak, mereka akan memberi modal untuk produksi dalam skala yang lebih besar,” kata Sumarnoto Hadisuwono, generasi ketiga pemilik kecap Cap Tomat Lombok. Sebagaimana yang dikisahkan, pada pertengahan 1960-an, Presiden Sukarno membawa sejumlah wartawan ke Istana di Jakarta. Di dapur Istana, mereka cuma menemukan sepiring nasi goreng yang sudah dingin dan dua butir telur. Bung Karno meminta sebotol kecap untuk menemani hidangannya. Tak lama kemudian, seorang pelayan membawa sebotol besar kecap. “Ini kecap paling enak di dunia. Ini kecap dari Blitar,” kata Bung Karno. Meski lahir di Surabaya, Bung Karno besar di Blitar, Jawa Timur. “Bagaimana? Enak kan kecapnya?” tanya Bung Karno kepada tamunya. Urusan selera lidah ini kemudian turun kepada putrinya, Megawati. Megawati sering menitip kecap asli Blitar kepada Djarot Saiful Hidayat, mantan Gubernur Jakarta yang pernah 10 tahun menjabat sebagai Walikota Blitar. Mengundang rasa penasaran, tidak terang benar merek kecap favorit Bung Karno dan Megawati asal Blitar. Di Blitar, ada beberapa merek kecap terkenal seperti Cap Bajang, Cemara, dan Cap Durian Emas. Tidak begitu jelas kapan kecap mulai mengenakan, diterima, dan mulai diadopsi oleh selera masyarakat Nusantara. Kecap, meskipun bukan resep asli Indonesia, sudah akrab dengan rasa masyarakat Indonesia. Di setiap daerah, setiap pabrik memiliki resepnya sendiri dalam pembuatan kecap. Bagi para penggemar kecap, seperti halnya penggemar kopi, setiap merek kecap memiliki ciri khasnya sendiri, tergantung dari bahan baku dan cara pembuatannya. Chef Alifatqul Maulana bahkan bisa mengenali merek kecap dengan mengetahui rasanya. Di Korea Selatan disebut ganjang. Orang Jepang menyebut shoyu. Orang Melayu menyebut kicap. Di negara asalnya, Tiongkok, kecap dikenal sebagai jiang yu. John Locke, seorang filosof asal Inggris, sudah menulis catatan tentang saio, saus kental dari Asia Timur, pada tahun 1679. William Shurtleff dan Akiko Aoyagi, dalam bukunya yang berjudul History of Soy Sauce, mencatat bahwa perusahaan dagang Belanda VOC pertama kali mengangkut shoyu dari Jepang ke Batavia di Hindia Belanda pada tahun 1647. VOC menyebutnya soije. Usia kecap sendiri jauh lebih tua dari catatan-catatan tersebut. Menurut sejumlah catatan, kecap sudah dikenal di Tiongkok sekitar abad ke-3. Istilah “kecap” sendiri, menurut catatan VOC, juga sudah digunakan pada pertengahan abad ke-17. Meskipun begitu, masih banyak misteri terkait bagaimana kecap asin yang encer dari Tiongkok dan Jepang berubah menjadi kecap manis yang kental di Indonesia. Di Indonesia, dari barat hingga timur, kecap manis menjadi lebih populer dibanding kecap asin. Tidak diketahui dengan pasti, sejak kapan kecap manis mulai diproduksi di Nusantara. Beberapa pabrik kecap tua yang masih beroperasi hingga saat ini, seperti Kecap Benteng Cap Istana dari Kota Tangerang dan Kecap Cap Orang Jual Sate dari Probolinggo, telah berusia lebih dari seabad. Namun, tidak jelas apakah kedua pabrik ini mulai memproduksi kecap manis sejak awal beroperasi. Hampir sepuluh tahun yang lalu, almarhum Bondan Winarno menulis tentang kecap manis, dengan judul Kecap Manis: Pusaka Kuliner Nusantara. “Kecap manis dapat disimpulkan sebagai produk khas Indonesia – lebih khususnya: Jawa. Di Negeri Tiongkok sendiri tidak dikenal kecap manis, begitu juga di negara-negara Asia lainnya,” tulis Bondan. Sebagian besar merek kecap yang ada di Indonesia berasal dari berbagai kota di Jawa. Di Malaysia, meskipun ada satu-dua perusahaan kecap yang memproduksi ‘kicap lemak manis’ seperti Cap Jalen, Cap Kipas Udang, Adabi, dan Mudim, namun kecap manisnya tidak sehitam dan sekenyal kecap Indonesia. “Tapi kecap manisnya kurang kental dan kurang hitam. Pemasarannya juga terbatas,” Bondan menulis. Dia menduga, perusahaan-perusahaan Malaysia itu hanya meniru kecap manis di Indonesia. “Malaysia tidak punya sejarah kecap manis dan hanya meniru Indonesia dalam pembuatan kecap manis.” Sumber: https://news.detik.com/x/detail/intermeso/20180614/Bung-Karno-dan-Kecap-Nomor-Satu-di-Dunia/ Reporter/Penulis: Pasti Liberti, Melisa Mailoa Editor: Sapto Pradityo

Source link